Thursday, December 24, 2015

Laki-Laki dan Ejakulasi Dini

Sungguh berat menjadi laki-laki di negeri ini. Kalau saja ukuran laki-laki hanya memakai parameter otot bisep yang mengembang, dada yang bidang, atau seberapa besar peluang untuk menjatuhkan lawan, tentulah menjadi laki-laki dapat dengan mudah diraih, atau paling tidak bisa dilatih.

Tapi sungguh menjadi laki-laki jauh lebih sukar dibanding sekadar memiliki tubuh kekar. Sedari kecil, laki-laki selalu didoktrin sebagai  pemikul beban. Pria-pria kecil selalu disiapkan oleh para orang tua untuk menjadi pemimpin, pelindung, dan pengambil keputusan. Ketika jatuh tak boleh menangis, karena ia laki-laki. Saat bermain harus mengalah pada yang lemah, karena ia laki-laki. Beranjak remaja, ia harus yang pertama kali menyatakan cinta, karena ia pria. Ketika hendak  menyeberang jalan, ia harus bersedia memosisikan diri untuk tertabrak duluan.

Ketika dewasa, soal ujian para lelaki tak berhenti, malah menjadi-jadi. Mau melamar pacar, kerjamu apa? Bagaimana mungkin calon mertua melepaskan anak wanitanya pada pria yang  tak jelas masa depannya? Mau diberi makan apa?  Mau tinggal dimana? Tahukah kamu, hai calon menantu, harga properti begitu gila. Di kota besar seperti Surabaya, misalnya, harga rumah sama absurdnya dengan sinetron Ganteng- Ganteng Serigala. Rumah 5 X 10 meter yang ketika kita membuka pintu utama langsung bisa melihat tembok paling belakang, harganya bisa Rp 400 juta.  Laki-laki harus rajin membaca berita ekonomi, agar tahu fluktuasi bunga yang begitu tinggi. Laki-laki harus menyiapkan daya tahan selama belasan atau bahkan puluhan tahun ke depan, dimana tiba-tiba cicilan bisa naik signifikan.

Para pria yang akan masuk ke jenjang menikah juga dihadapkan pada  begitu banyak tantangan lainnya, dimana kredibiltasnya sebagai laki-laki dipertaruhkan. Soal kawin soal gampang, mudah, tapi nanti ketika Sang Buah Hati sudah dikandung istri, berapa biaya yang harus dipersiapkan untuk memastikan sebagian tulang rusuk kita itu berada dalam perawatan dokter berpengalaman, tidak tidur di kasur tipis setelah berjuang mati-matian, di sebuah bangsal rumah sakit yang kumuh?

Next, ketika anak sudah lahir, laki-laki harus mengatasi segala kondisi gawat darurat, termasuk jika Si Kecil jatuh sakit. Berapa biaya rumah sakit di jaman ini? Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar premi asuransi mengingat kondisi gawat darurat dapat datang setiap saat. Laki-laki harus selalu memastikan anak istrinya mendapatkan penanganan terbaik.  

Rumit, bukan? Belum. BBM dan tarif dasar listrik yang terus melambung membuat harga kebutuhan pokok juga terkerek. Biaya kebutuhan hidup tak bisa tak bisa diundur seperti mekanisme pencairan BG mundur. Apalagi di jaman sekarang yang kebijakannya cenderung liberal. Bagaimana mungkin BBM, listrik, dan hal lain yang menyangkut hajat hidup orang banyak diserahkan pada mekanisme pasar? Naik dan turun mengikuti nilai tukar rupiah dan harga minyak dunia. Jadi misalnya, seperti kejadian beberapa saat lalu dimana Rusia dan Turki bersitegang, kita harus ikut tegang karena konflik dua negara nun jauh di sana itu berpotensi memengaruhi naiknya harga minyak dunia, dan itu berarti harga BBM dan listrik di negara kita akan naik juga. Jangan heran juga kalau semisal The Fed (Bank Sentral Amerika) menaikkan suku bunga, maka nilai tukar rupiah turun. Akibatnya: BBM dan listrik akan sangat mungkin naik juga.

Tapi kalau minyak mentah dunia turun kan BBM kan juga turun seperti awal 2016 ini? Iya, tapi coba lihat grafiknya. Tahun 2011 Harga terendah minyak mentah dunia adalah USD 102, saat itu premium dijual Rp 4.500. Tahun 2015, harga minyak mentah dunia USD 36,3, dan harga premium Rp 7.400.  Terlihat grafiknya? Tidak? Tapi sudahlah, masalahnya sebenarnya bukan naik atau turunnya, tapi penerapan kebijakan neo-liberal. Saya setuju jika subsidi BBM dicabut dan khusus diberikan pada yang berhak, yang lain harus minimal pertamax. Setuju. Tapi mendasarkan kenaikan dan penurunan BBM dan listrik dengan menyerahkannya pada mekanisme pasar? Rrrrrr.....

Oke lah. Balik lagi soal laki-laki. Yang juga sangat-sangat krusial adalah pendidikan. Terus terang saja, sekolah-sekolah negeri kini kalah pamor dengan sekolah swasta yang memang memiliki kualitas dan metode pembelajaran yang lebih baik. Apa boleh buat, biaya pendaftaran SD yang mencapai belasan juta dan SPP yang mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah pun harus diusahakan dengan segala daya upaya demi masa depan Sang Buah Hati. 

Apalagi? Apalagi? Berikan semua bebannya. Semua laki-laki tak akan lari dari tanggung jawabnya, meski mungkin tak bisa membuat semuanya sempurna. Semua laki-laki telah terlatih sejak kecil untuk menjadi pemimpin. Dalam otaknya telah tertanam bahwa ialah pelindung. Ia tahu bahwa ia adalah penanggung jawab. Ia bersedia melakukan apa saja untuk mereka yang dicintainya. Ia sanggup menanggung risiko apapun, bahkan menjadi mengorbankan dirinya sekalipun untuk memastikan anak dan istrinya dalam kondisi baik-baik saja: Aman, tenteram, kenyang. 

Ia hanya berderai air mata melihat tangan kecil anaknya tertusuk  jarum infus, ditangani oleh dokter muda yang sedang praktikum, dengan peralatan seadanya. Ia hanya teriris hatinya melihat anaknya tak bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya, dengan fasilitas yang sama, dengan metode pengajaran yang dikembangkan sekolah-sekolah masa kini. Lelaki berusaha memberikan perawatan terbaik untuk istrinya selama proses kehamilan dan melahirkan, sebagai ungkapan terima kasih telah mengandung darah dagingnya. Pria  selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak istrinya, meski ia tahu tak bisa membuat semuanya sempurna. 

Laki-laki selalu memiliki banyak rencana.Plan A, Plan B, Plan C, Plan D,dan seterusnya hingga emergency strategy. Laki-laki (sejati) juga selalu tertawa mendengar istilah Keluarga Berencana yang sampai saat ini masih didengung-dengungkan pemerintah. Apanya yang direncanakan? Tanpa diminta pemerintah pun, laki-laki selalu punya banyak rencana indah untuk keluarganya. Hari ini, rencana memiliki banyak anak adalah sebuah rencana gila. Bahkan berhubungan suami istri pun kini menjadi aktivitas “menakutkan”. Kekhawatiran laki-laki di masa ini bukan lagi penyakit ejakulasi dini,  tapi justru takut “jadi”!

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2014 menyebutkan, dari total jumlah wanita atau ibu usia subur pengguna alat KB , persentasenya terus meningkat dari tahun ketahun.  Bahkan pada tahun 2014 mencapai 62,50%. Bahkan metode KB pada pria juga terus mengalami peningkatan, meski tak terlalu signifikan karena mungkin menyangkut urusan“kejantanan”. Dalam sebuah berita yang dirilis oleh Republika, Maret 2014 lalu, jumlah pria yang melakukan vasektomi bahkan tiga kali lebih banyak dari yang ditargetkan oleh BKKBN Yogyakarta.

BKKBN berhasil, kita tak bisa mengenyampingkan data tersebut di atas. Tapi apa benar  keiikutsertaan masyarakat benar-benar karena kesadaran dan implementasi dari jargon "Dua Anak Cukup". Apa benar ini karena keberhasilan pemerintah dalam menanamkan mindset bahwa keluarga kecil dan terencana bisa lebih menjamin keluarga bahagia? Apa betul ini keberhasilan pemerintah lewat BKKBN dalam menyosialisasikan penggunaan alat kontrasepsi yang benar? Kalau hanya masalah kontrasepsi, harus diakui anak-anak muda sekarang sungguh sudah sangat canggih dalam berimprovisasi”, bukan?

Mari memandang persoalan ini dari perspektif yang lebih luas. Keluarga berencana bukan hanya soal dua anak cukup dan pemasangan alat kontrasepsi yang benar. Jauh lebih besar dari itu, Program Keluarga Berencana yang digagas pemerintah Indonesia sudah seharusnya menyentuh esensi dan hal yang paling mendasar dalam kehidupan bernegara: Memastikan semua rakyat Indonesia sejahtera! Karena sesungguhnya keluarga sejahtera adalah sebaik-baiknya rencana. Selama harga rumah masih supermahal  dan suku bunga KPR begitu tinggi, sekolahan tak ubahnya seperti perusahaan yang menjadikan pendidikan sebagai bahan jualan, biaya kesehatan edan-edanan, BBM naik, tarif dasar listrik semakin mencekik, harga sembako bikin K.O., maka sesungguhnya program keluarga berencana telah sukses dilaksanakan. 

 Ada baiknya kita lupakan saja dulu Program Keluarga Berencana. Para pria  tak sempat memikirkannya karena sedang sibuk kerja, kerja, kerja, mengerahkan segala daya upaya dan berusaha semaksimal mungkin untuk memastikan keluarga kecilnya hidup sejahtera. Kita bicarakan lagi nanti, saat para lelaki  bisa benar-benar menikmati hubungan suami istri.

Image ini tidak ada kaitannya dengan tulisa di atas. Saya temukan dengan mengetik keyword "Ejakulasi Dini" di image.google.com. Siapa tahu bermanfaat, Daripada saya kasih gambar pisang, saru.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites